LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Deden Heksaputera kembali menyambangi rumah lapuk milik Safiah (56) di Gampong Ulee Blang Kecamatan Pirak Timu, Selasa (23/3/2023) membawa sejumlah bantuan untuk keluarga janda miskin ini untuk menyambut bulan suci Ramadhan 1444 H.
Sebelumnya Kapolres menemukan kondisi kehidupan nenek sapiah yang serba kekurang sejak tiga pekan lalu saat melakukan patroli gabungan ke makam Cut Nyak Meutia, selain melihat kondisi rumah memprihatinkan, juga melihat tidak ada listrik, dan nenek Sapiah ini mengkonsumsi air parit, tentu tidak baik untuk kesehatan.
“Kehidupan nenek ini sangat miris. Maka kami tergerak hati untuk membantu, meringankan beban janda ini, setelah kunjungan pertama langsung berkoordinasi dengan PLN, sehingga kini gubuk Sapiah sudah dilengkapi listrik.”
Dalam kunjungan kedua, dalam rangka penyerahan bantuan sembako, peralatan dapur berupa satu kompor gas, dispenser air minum, peralatan memasak nasi, dan melihat kondisi sumur yang sedang di gali, Kapolres AKBP Deden turut didampingi Wakapolres, Kompol Syukrif I Panigoro, Kabag Ops Kompol Firdaus Jufrida, Kasat Reskrim AKP Agus Riwayanto Diputra, Kasat Intelkam AKP Imran, Kabag Sumda, AKP Ildani, Kasat Lantas Iptu Faisal dan sejumlah perwira lainnya.
“Karena kita prihatin dengan kondisi rumah tidak layak huni, dalam waktu dekat kami akan melakukan program ‘bedah rumah’ swadaya jajaran Polres untuk ibu Sapiah yang sudah menjanda sekitar dua tahun, sehingga ibu ini bersama perempuannya bisa tinggal di rumah layak huni,” terang Kapolres.
Baca Berita Sebelumnya : Kapolres Kaget Ketahui Warga Mandi Pakai Air Parit, Perintahkan Anggotanya Lakukan Hal Ini
Sementara itu, Safiah sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Kapolres Aceh Utara dan jajarannya atas kepedulian terhadap dirinya, yang telah memberikan bantuan sembako, peralatan dapur dan uang tunai serta sudah menggali sumur di samping rumah agar bisa mendapatkan sumber air bersih.
“Sudah puluhan tahun saya mengasapi dapur dengan kayu bakar, karena tidak mampu membeli kompor gas, termasuk menggunakan air parit untuk kebutuhan sehari-hari, sebab tidak sanggup menggali sumur. Namun, saat air parit kering, terpaksa mencari sumber air di tempat lain, tidak sanggup membeli air bersih, untuk kebutuhan sehari-hari saja sulit,”kata nenek Sapiah.
Sedangkan untuk biaya hidupnya semenjak ditinggal almarhum suami sekitar 2 tahun lalu, terpaksa bekerja tung upah mengupas pinang orang lain di gampong, upah yang di dapat tersebut dalam sehari Rp 30 ribu, cukup buat beli beras satu bambu atau sekitar 1,8 kilogram.
“Selama ini saya hanya menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari desa, sedangkan lainnya tidak ada, begitu juga dengan rehab rumah, Namun jauh-jauh hari sebelumnya banyak yang datang memfotokan rumah saya dengan dalih bisa mendapatkan rumah bantuan, Namun hingga saat ini belum ada,”kata nenek Sapiah dengan mata berkaca-kaca.
Simak Videonya







